Rabu, 21 November 2018

Peranan Komunikasi dan Interaksi dalam Mewujudkan Persatuan Umat


ABSTRAK

Subawi, 2014. Peranan Komunikasi dan Interaksi dalam Mewujudkan                      Persatuan Umat Buddha Vihara Buddha Ratana Labuan-Banten. Skripsi.Jurusan Dharmaduta Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Sriwijaya Tangerang Banten. Pembimbing I Waluyo, M.Pd dan Pembimbing II       Heriyanto, M.Kom.
Kata kunci: komunikasi, berinteraksi, persatuan

        Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah komunikasi antara pengurus vihara dan umat Buddha Vihara Buddha Ratana Labuan bentuk peranannya dalam persatuan
        Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendiskripsikan peranan komunikasi dan interaksi dalam mewujudkan persatuan umat Buddha Vihara Buddha Ratana Labuan.
        Untuk mencapai tujuan penelitian tersebut diatas, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif. Mengingat data yang dianalisis berupa teks dan bersifat kualitatif, maka penulis menggunakan analisis data secara induktif, karena penelitian lebih menekankan makna daripada generalisasi.
        Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peranan komunikasi dalam mewujudkan persatuan  umat Buddha Vihara Buddha Ratana Labuan belum dipahami oleh umat Buddha Vihara Buddha Ratana.
        Berdasarkan hasil penelitian tersebut penulis menyimpulkan bahwa kurangnya pemahaman dalam komunikasi serta kurangnya teknik berkomunikasi yang baik menyebabkan persatuan umat Buddha Vihara Buddha Ratana belum terwujud.
        Akhirnya penulis menyarankan untuk meningkatkan intensitas dalam berkomunikasi dan meningkatkan teknik-teknik komunikasi yang baik, dengan sarana mengadakan Anjangsana. Dengan adanya intensitas dalam komunikasi dan interaksi lambat laun akan terbentuk rasa persaudaraan yang akhirnya persatuan umat Buddha Vihara Buddha Ratana akan terwujud.



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
        Manusia di dalam kehidupannya harus berkomunikasi, artinya memerlukan orang lain dan membutuhkan kelompok atau masyarakat untuk saling berinteraksi. Hal ini merupakan suatu hakikat bahwa sebagian besar pribadi manusia terbentuk dari hasil integrasi sosial dengan sesamanya. Dalam kehidupannya manusia sering dipertemukan satu sama lain dalam suatu wadah baik formal maupun informal.
        Organisasi adalah sebuah sistem sosial yang kompleksitasnya jelas terlihat melalui jenis, peringkat, bentuk dan jumlah interaksi yang berlaku. Melalui interaksi, individu maupun kelompok mendapatkan berbagai stimulasi yang akan mendorong kearah perkembangan yang optimal. Dalam interaksi ada aktivitas yang sebenarnya bersifat aksi reaksi dengan berdasarkan kebutuhan bersama, aktivitas ungkapan perasaan, motivasi, yang semuanya ini dinyatakan dalam bentuk tingkah laku dan perbuatan.
        Dengan interaksi akan muncul inisiatif dari suatu reaksi yang diberikan oleh masing-masing individu, kemudian berkembang menjadi saling pengertian dalam menjalankan kewajiban dan tanggung jawab berorganisasi. Pengalaman aksi dan reaksi akan mengembangkan kompetensi untuk memberikan perhatian, yang mencakup kemampuan untuk mengamati, mendengarkan, dan merespon, yang pada akhirnya berkembang menjadi empati antarindividu maupun dalam kelompok organisasi.
        Aktivitas komunikasi dan interaksi dalam kepengurusan vihara senantiasa disertai dengan tujuan yang ingin dicapai bersama dalam pengelolaan serta pelayanan kepada umat Buddha itu sendiri. Budaya komunikasi dan interaksi dalam konteks berorganisasi harus dilihat dari berbagai sisi, yaitu: komunikasi antarpengurus, komunikasi antarumat, komunikasi antara pengurus dan umat disertai dengan interaksinya. Antara komunikasi dan interaksi mempunyai polanya masing-masing di dalam penerapan berorganisasi, walaupun di dalam pelaksanaannya komunikasi dan interaksi adalah bagian yang tak terpisahkan dari keorganisasian.
        Proses dalam organisasi adalah salah satu faktor penentu dalam mencapai organisasi yang efektif. Salah satu proses yang akan selalu terjadi dalam organisasi apapun adalah proses komunikasi dan interaksi. Melalui organisasi terjadi pertukaran informasi, gagasan, dan pengalaman. Mengingat perannya yang penting dalam menunjang kelancaran, kemajuan dan perkembangannya, maka perhatian yang cukup perlu dicurahkan untuk memahami tatacara dan tata etika dalam berkomunikasi dan berinteraksi dalam organisasi maupun individu. Proses komunikasi dan interaksi yang begitu dinamik, dan unik dapat menimbulkan berbagai masalah yang mempengaruhi pencapaian kemajuan di dalam berorganisasi maupun di dalam berhubungan antarindividu, terutama dengan timbulnya salah paham dan konflik.
        Konflik ini bisa disebabkan oleh persoalan pribadi yang terbawa dalam kepengurusan maupun konflik salah pengertian, serta perbedaan pendapat, dan kesalahpahaman dalam menyikapi saat berkomunikasi dan berinteraksi maupun dalam tugas dan kewajiban berorganisasi. Sejarah panjang perkembangan agama Buddha pada zaman Orde Baru telah terbentuk beberapa organisasi, entah itu organisasi kebhikkhuan atau Sangha maupun organisasi kemajelisan, namun demikian dengan banyaknya organisasi Buddhis yang ada kala itu kurang memberi manfaat kepada umat Buddha, karena kemunculan organisasi-organisasi Buddhis ini diawali adanya konflik internal yang akhirnya dari konflik ini terbentuk organisasi-organsasi Buddhis baru.
        Apabila ditelusuri dari awal kejadian konflik kemunculan karena adanya kesalahpahaman yang disebabkan kurangnya komunikasi dan interaksi antarpengurus organisasi, serta kepentingan pribadi maupun kepentingan organisasi. Belajar dari sejarah perkembangan agama Buddha pada era orde baru hingga sekarang dengan banyaknya organisasi buddhis belum menjamin adanya persatuan dalam berorganisasi, namun sebaliknya hanya membawa suatu perpecahan yang berkepanjangan, dimana dampak negatif dari konflik adalah para umat Buddha sendiri. Menyikapi hal tersebut yang harus kita pahami adalah, di antara tokoh-tokoh pemimpin organisasi-organisasi buddhis harus menjalin komunikasi dan interaksi dua arah, maksud dari komunikasi dan interaksi dua arah ini adalah, saling memberikan informasi, sering mengadakan pertemuan antarpemimpin organisasi demikian juga dengan para umat Buddha, untuk itu diperlukan adanya kerja sama antarpemimpin organisasi buddhis, sebagai wujud perhatian dan tanggung jawab secara moral terhadap umat Buddha, agar cita-cita menuju kedalam kemajuan Buddha Dhamma serta persatuan semua organisasi buddhis pada umumnya dan persatuan di lingkungan umat Buddha pada khususnya dapat terwujud.
        Demikian pula dalam hal komunikasi dan interaksi antara pengurus vihara dan umat, kompetensi komunikasi dan interaksi yang baik yang berlandaskan sosial, etika yang berkembang di lingkungan vihara maupun di masyarakat akan meningkatkan rasa persaudaraan, saling memiliki dan tanggung jawab bersama, sehingga persatuan umat buddha semakin kokoh dan perkembangan sebuah vihara menjadi semakin baik. Sebaliknya, apabila terjadi komunikasi dan interaksi yang tidak berlandaskan sosial, etika di lingkungan vihara maupun di masyarakat, serta sikap egoisme atau acuh tak acuh dari pengurus maupun umat, akan berdampak pada keretakan hubungan antara pengurus dan umat Buddha.
        Salah satu permasalahan yang ada di Vihara Buddha Ratana Labuan adalah kurangnya komunikasi antarpengurus vihara dengan umat itu sendiri, kurangnya pemahaman komunikasi dan interaksi, beretika dalam komunikasi dan interaksi, serta dalam menjalankan roda keorganisasian kurang memahami tanggungjawab dan kewajiban masing-masing, dikarenakan ketidaktahuan dalam berorganisasi, hingga menimbulkan prasangka antarpengurus, dan akhirnya menjadi konflik antarpengurus dan umat Buddha. Suatu masalah kalau dibiarkan berlarut-larut akan menimbulkan pengaruh atau dampak yang kurang baik di lingkungan vihara maupun di lingkungan masyarakat, pengaruhnya bisa dalam skala kecil, dengan sepinya kegiatan-kegiatan keagamaan hingga meluas menjadi terhambatnya perkembangan Buddha Dhamma. Permasalahan ini apabila pengurus vihara dan umat Buddha tidak ada kesadaran untuk mengatasi dan menyelesaikan persoalan yang ada, maka lambat laun menjadi persoalan serius dalam perkembangan organisasi maupun perkembangan Buddha Dhamma di Vihara Buddha Ratana Labuan pada khususnya serta di Banten pada umumnya. Belajar dari pengalaman permasalahan yang ada, semua pihak harus menyikapi dan memahami betapa pentingnya menjaga komunikasi dan interaksi terhadap kehidupan manusia maupun keberlangsungan suatu organisasi serta dalam kepengurusan vihara, untuk itu mencari akar masalah dan penyelesaian masalah yang ada sangat di harapkan oleh semua umat Buddha.
        Menyikapi permasalahan mengenai komunikasi dan interaksi bukan terjadi hanya  pada zaman sekarang saja, pada zaman Sang Buddha pun permasalahan yang berkaitan dengan komunikasi dan interaksi itu sudah pernah terjadi, oleh sebab itu untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada, Sang Buddha menjelaskan di dalam Jalan Utama Berunsur Delapan bagian Ucapan Benar, dimana Beliau menekankan betapa pentingnya komunikasi dan interaksi bagi kemajuan manusia di dalam menjalani hidup dan kehidupan ini, di samping itu Sang Buddha juga menjelaskan di dalam Dasa Raja Dhamma sepuluh sikap seorang pemimpin serta Tujuh Faktor mencapai kejayaan, bagaimana mewujudkan persatuan untuk mencapai kejayaan di dalam kelompok. Inilah cara yang harus dipahami dan direalisasikan sebagai pengurus vihara maupun umat Buddha pada umumnya.
        Melihat pengaruh yang sangat penting mengenai komunikasi dan interaksi yang terjadi dalam kepengurusan sebuah vihara sehingga mampu meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan yang akhirnya membawa kemajuan dan perkembangan umat Buddha Vihara Buddha Ratana, maka penulis tertarik mengambil judul “Peranan Komunikasi dalam Mewujudkan Persatuan Umat Buddha Vihara Buddha Ratana Labuan- Banten” 

1.2  Identifikasi Masalah
        Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas maka penelitian ini dapat diidentifikasikan beberapa masalah sebagai berikut:
a. Masih kurangnya komunikasi dan interaksi pengurus vihara dan umat.
b. Belum dipahaminya peranan komunikasi oleh pengurus dan umat Buddha
    Vihara Buddha Ratana Labuan.
c. Minimnya pengetahuan tentang Agama Buddha.
d. Kurangnya pemahaman dalam berorganisasi.
e. Konflik individu pengurus dan umat karena kurangnya pemahaman
    mengenai tanggung jawab berorganisasi.
f. Kurangnya kepedulian umat terhadap Vihara.
g. Kurangnya peran aktif umat dalam setiap kegiatan Vihara.
h. Kurangnya kepercayaan umat terhadap Pengurus Vihara.

1.3  Fokus Penelitian
Penelitian ini hanya dibatasi Peranan Komunikasi dalam Mewujudkan Persatuan umat Buddha Vihara Buddha Ratana Labuan-Banten.

1.4   Rumusan Masalah
Berdasarkan idenditifikasi masalah tersebut di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: Bagaimana peranan komunikasi dalam mewujudkan persatuan umat Buddha Vihara Buddha Ratana Labuan-Banten?

1.5   Tujuan Penelitian
Mendiskripsikan bagaimana peranan komunikasi dalam mewujudkan persatuan umat Buddha Vihara Buddha Ratana Labuan-Banten.

1.6   Kegunaan Penelitian
Penelitian tentang peranan komunikasi dalam mewujudkan persatuan umat Buddha Vihara Buddha Ratana Labuan-Banten diharapkan memiliki kegunaan, yaitu:








1.6.1  Keguaaan Teoritis
a.      Menambah pengetahuan, pengalaman dan wawasan, serta bahan dalam       penerapan ilmu penelitian khususnya, peranan komunikasi dalam       mewujudkan persatuan Umat Buddha Vihara Buddha Ratana.
b.     Sebagai bahan penelitian serta perbandingan selanjutnya mengenai komunikasi sebagai wujud persatuan umat Buddha.
1.6.2  Kegunaan Praktis

a.      Sebagai bahan masukan bagi pengurus vihara serta umat Buddha Vihara     Buddha Ratana Labuan-Banten dalam berkomunikasi disertai          interaksinya.
b.     Memberikan pemahaman yang benar dalam beromunikasi serta        berinteraksi      untuk persatuan umat Buddha di Vihara Buddha Ratana             Labuan-Banten.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar