ABSTRAK
Subawi, 2014. Peranan Komunikasi dan Interaksi dalam
Mewujudkan Persatuan Umat Buddha Vihara Buddha
Ratana Labuan-Banten. Skripsi.Jurusan Dharmaduta Sekolah Tinggi Agama
Buddha Negeri Sriwijaya Tangerang Banten. Pembimbing I Waluyo, M.Pd dan
Pembimbing II Heriyanto, M.Kom.
Kata kunci: komunikasi,
berinteraksi, persatuan
Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah
komunikasi antara pengurus vihara dan umat Buddha Vihara Buddha Ratana Labuan
bentuk peranannya dalam persatuan
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan
mendiskripsikan peranan komunikasi dan interaksi dalam mewujudkan persatuan
umat Buddha Vihara Buddha Ratana Labuan.
Untuk mencapai tujuan penelitian tersebut diatas, penulis
menggunakan metode penelitian kualitatif. Mengingat data yang dianalisis berupa
teks dan bersifat kualitatif, maka penulis menggunakan analisis data secara
induktif, karena penelitian lebih menekankan makna daripada generalisasi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peranan komunikasi dalam
mewujudkan persatuan umat Buddha Vihara
Buddha Ratana Labuan belum dipahami oleh umat Buddha Vihara Buddha Ratana.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut penulis menyimpulkan
bahwa kurangnya pemahaman dalam komunikasi serta kurangnya teknik berkomunikasi
yang baik menyebabkan persatuan umat Buddha Vihara Buddha Ratana belum
terwujud.
Akhirnya penulis menyarankan untuk meningkatkan intensitas
dalam berkomunikasi dan meningkatkan teknik-teknik komunikasi yang baik, dengan
sarana mengadakan Anjangsana. Dengan adanya intensitas dalam komunikasi dan
interaksi lambat laun akan terbentuk rasa persaudaraan yang akhirnya persatuan
umat Buddha Vihara Buddha Ratana akan terwujud.
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang Masalah
Manusia
di dalam kehidupannya harus berkomunikasi, artinya memerlukan orang lain dan
membutuhkan kelompok atau masyarakat untuk saling berinteraksi. Hal
ini merupakan suatu hakikat bahwa sebagian besar pribadi manusia terbentuk dari
hasil integrasi sosial dengan sesamanya. Dalam kehidupannya manusia sering
dipertemukan satu sama lain dalam suatu wadah baik formal maupun informal.
Organisasi
adalah sebuah sistem sosial yang kompleksitasnya jelas terlihat
melalui jenis, peringkat, bentuk dan jumlah interaksi yang berlaku. Melalui interaksi,
individu maupun kelompok mendapatkan berbagai stimulasi yang akan mendorong kearah
perkembangan yang optimal. Dalam interaksi ada aktivitas yang sebenarnya bersifat
aksi reaksi dengan
berdasarkan kebutuhan bersama, aktivitas
ungkapan perasaan, motivasi, yang semuanya ini dinyatakan dalam bentuk tingkah
laku dan perbuatan.
Dengan
interaksi akan muncul inisiatif dari suatu reaksi yang diberikan oleh
masing-masing individu, kemudian berkembang menjadi saling pengertian dalam
menjalankan kewajiban dan tanggung jawab berorganisasi. Pengalaman aksi dan reaksi
akan mengembangkan kompetensi untuk memberikan perhatian, yang mencakup kemampuan
untuk mengamati, mendengarkan, dan merespon, yang pada akhirnya berkembang menjadi
empati antarindividu maupun dalam kelompok organisasi.
Aktivitas
komunikasi dan interaksi dalam kepengurusan vihara senantiasa disertai dengan
tujuan yang ingin dicapai bersama dalam pengelolaan serta pelayanan kepada umat
Buddha itu sendiri. Budaya komunikasi dan interaksi dalam konteks berorganisasi harus
dilihat dari berbagai sisi, yaitu: komunikasi antarpengurus,
komunikasi antarumat, komunikasi antara pengurus dan umat disertai dengan
interaksinya. Antara komunikasi dan interaksi mempunyai polanya masing-masing di dalam
penerapan berorganisasi, walaupun di dalam pelaksanaannya komunikasi dan
interaksi adalah bagian yang tak terpisahkan dari keorganisasian.
Proses
dalam organisasi adalah salah satu faktor penentu dalam mencapai organisasi
yang efektif. Salah satu proses yang akan selalu terjadi dalam organisasi
apapun adalah proses komunikasi dan interaksi. Melalui organisasi terjadi
pertukaran informasi, gagasan, dan pengalaman.
Mengingat perannya yang
penting dalam menunjang kelancaran, kemajuan dan perkembangannya, maka
perhatian yang cukup perlu dicurahkan untuk memahami tatacara dan tata etika dalam berkomunikasi dan berinteraksi dalam
organisasi maupun individu. Proses komunikasi dan interaksi yang begitu dinamik,
dan unik dapat menimbulkan berbagai masalah yang mempengaruhi pencapaian kemajuan di dalam berorganisasi maupun di dalam berhubungan antarindividu, terutama dengan timbulnya
salah paham dan konflik.
Konflik
ini bisa disebabkan oleh persoalan pribadi yang terbawa dalam kepengurusan
maupun konflik salah pengertian, serta perbedaan pendapat, dan kesalahpahaman
dalam menyikapi saat berkomunikasi
dan berinteraksi maupun dalam tugas dan kewajiban
berorganisasi. Sejarah panjang perkembangan agama Buddha pada zaman Orde
Baru telah terbentuk beberapa organisasi, entah itu organisasi kebhikkhuan atau
Sangha maupun organisasi kemajelisan, namun demikian dengan banyaknya
organisasi Buddhis yang ada kala itu kurang memberi manfaat kepada umat Buddha,
karena kemunculan organisasi-organisasi Buddhis ini diawali adanya konflik internal
yang akhirnya dari konflik ini terbentuk organisasi-organsasi Buddhis baru.
Apabila ditelusuri dari awal kejadian
konflik kemunculan karena adanya kesalahpahaman yang disebabkan kurangnya
komunikasi dan interaksi antarpengurus organisasi, serta kepentingan pribadi
maupun kepentingan organisasi. Belajar dari sejarah perkembangan agama Buddha
pada era orde baru hingga sekarang dengan banyaknya organisasi buddhis belum
menjamin adanya persatuan dalam berorganisasi, namun sebaliknya hanya membawa
suatu perpecahan yang berkepanjangan, dimana dampak negatif dari konflik adalah
para umat Buddha sendiri. Menyikapi hal tersebut yang harus kita pahami adalah,
di antara tokoh-tokoh pemimpin organisasi-organisasi buddhis harus menjalin
komunikasi dan interaksi dua arah, maksud dari komunikasi dan interaksi dua
arah ini adalah, saling memberikan informasi, sering mengadakan pertemuan
antarpemimpin organisasi demikian juga dengan para umat Buddha, untuk itu
diperlukan adanya kerja sama antarpemimpin organisasi buddhis, sebagai wujud
perhatian dan tanggung jawab secara moral terhadap umat Buddha, agar cita-cita
menuju kedalam kemajuan Buddha Dhamma serta persatuan semua organisasi buddhis
pada umumnya dan persatuan di lingkungan umat Buddha pada khususnya dapat
terwujud.
Demikian pula dalam hal komunikasi dan interaksi antara pengurus vihara
dan umat, kompetensi komunikasi dan interaksi yang baik yang berlandaskan
sosial, etika yang berkembang di lingkungan vihara maupun di masyarakat akan
meningkatkan rasa persaudaraan, saling memiliki dan tanggung jawab bersama,
sehingga persatuan umat buddha semakin kokoh dan perkembangan sebuah vihara
menjadi semakin baik. Sebaliknya, apabila terjadi komunikasi dan interaksi yang
tidak berlandaskan sosial, etika di lingkungan vihara maupun di masyarakat,
serta sikap egoisme atau acuh tak acuh dari pengurus maupun umat, akan berdampak
pada keretakan hubungan antara pengurus dan umat Buddha.
Salah satu permasalahan
yang ada di Vihara Buddha Ratana Labuan adalah kurangnya komunikasi antarpengurus
vihara dengan umat itu sendiri, kurangnya pemahaman komunikasi dan interaksi,
beretika dalam komunikasi dan interaksi, serta dalam menjalankan roda keorganisasian
kurang memahami tanggungjawab dan kewajiban masing-masing, dikarenakan
ketidaktahuan dalam berorganisasi, hingga menimbulkan prasangka antarpengurus,
dan akhirnya menjadi konflik antarpengurus dan umat Buddha. Suatu masalah kalau
dibiarkan berlarut-larut akan menimbulkan pengaruh atau dampak yang kurang baik
di lingkungan vihara maupun di lingkungan masyarakat, pengaruhnya bisa dalam
skala kecil, dengan sepinya kegiatan-kegiatan keagamaan hingga meluas menjadi terhambatnya
perkembangan Buddha Dhamma. Permasalahan ini apabila pengurus vihara dan umat
Buddha tidak ada kesadaran untuk mengatasi dan menyelesaikan persoalan yang
ada, maka lambat laun menjadi persoalan serius dalam perkembangan organisasi
maupun perkembangan Buddha Dhamma di Vihara Buddha Ratana Labuan pada khususnya
serta di Banten pada umumnya. Belajar dari pengalaman permasalahan yang ada,
semua pihak harus menyikapi dan memahami betapa pentingnya menjaga komunikasi
dan interaksi terhadap kehidupan manusia maupun keberlangsungan suatu
organisasi serta dalam kepengurusan vihara, untuk itu mencari akar masalah dan
penyelesaian masalah yang ada sangat di harapkan oleh semua umat Buddha.
Menyikapi
permasalahan mengenai komunikasi dan interaksi bukan terjadi hanya pada zaman sekarang saja, pada zaman Sang
Buddha pun permasalahan yang berkaitan dengan komunikasi dan interaksi itu
sudah pernah terjadi, oleh sebab itu untuk menyelesaikan
permasalahan-permasalahan yang ada, Sang Buddha menjelaskan di dalam Jalan
Utama Berunsur Delapan bagian Ucapan Benar, dimana Beliau menekankan betapa
pentingnya komunikasi dan interaksi bagi kemajuan manusia di dalam menjalani
hidup dan kehidupan ini, di samping itu Sang Buddha juga menjelaskan di dalam
Dasa Raja Dhamma sepuluh sikap seorang pemimpin serta Tujuh Faktor mencapai
kejayaan, bagaimana mewujudkan persatuan untuk mencapai kejayaan di dalam
kelompok. Inilah cara yang harus dipahami dan direalisasikan sebagai pengurus
vihara maupun umat Buddha pada umumnya.
Melihat pengaruh yang sangat penting mengenai komunikasi
dan interaksi yang terjadi dalam kepengurusan sebuah vihara sehingga mampu
meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan yang akhirnya membawa kemajuan dan
perkembangan umat Buddha Vihara Buddha Ratana, maka penulis tertarik mengambil
judul “Peranan Komunikasi dalam Mewujudkan Persatuan Umat Buddha Vihara Buddha
Ratana Labuan- Banten”
1.2
Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah
yang telah dikemukakan di atas maka penelitian ini dapat diidentifikasikan beberapa
masalah sebagai berikut:
a. Masih
kurangnya komunikasi dan interaksi pengurus vihara dan umat.
b.
Belum dipahaminya peranan komunikasi oleh pengurus
dan umat Buddha
Vihara Buddha Ratana Labuan.
c. Minimnya
pengetahuan tentang Agama Buddha.
d. Kurangnya pemahaman dalam
berorganisasi.
e. Konflik individu pengurus dan umat
karena kurangnya pemahaman
mengenai tanggung jawab berorganisasi.
f. Kurangnya kepedulian umat terhadap
Vihara.
g. Kurangnya peran aktif umat dalam
setiap kegiatan Vihara.
h. Kurangnya kepercayaan umat terhadap
Pengurus Vihara.
1.3
Fokus
Penelitian
Penelitian ini hanya dibatasi Peranan Komunikasi dalam Mewujudkan Persatuan umat Buddha Vihara
Buddha Ratana Labuan-Banten.
1.4
Rumusan Masalah
Berdasarkan
idenditifikasi masalah tersebut di atas dapat dirumuskan permasalahan sebagai
berikut: Bagaimana peranan komunikasi dalam mewujudkan persatuan umat Buddha
Vihara Buddha Ratana Labuan-Banten?
1.5
Tujuan Penelitian
Mendiskripsikan
bagaimana peranan komunikasi dalam mewujudkan persatuan umat Buddha Vihara Buddha Ratana Labuan-Banten.
1.6
Kegunaan Penelitian
Penelitian
tentang peranan komunikasi dalam mewujudkan persatuan umat Buddha Vihara Buddha
Ratana Labuan-Banten diharapkan memiliki kegunaan, yaitu:
1.6.1
Keguaaan Teoritis
a. Menambah pengetahuan, pengalaman dan
wawasan, serta bahan dalam penerapan ilmu penelitian khususnya, peranan
komunikasi dalam mewujudkan
persatuan Umat Buddha Vihara Buddha Ratana.
b. Sebagai bahan
penelitian serta perbandingan selanjutnya
mengenai komunikasi sebagai wujud persatuan umat Buddha.
1.6.2 Kegunaan Praktis
a. Sebagai bahan masukan bagi pengurus vihara
serta umat Buddha Vihara Buddha Ratana
Labuan-Banten dalam berkomunikasi disertai interaksinya.
b. Memberikan pemahaman yang benar dalam
beromunikasi serta berinteraksi untuk persatuan umat Buddha di Vihara
Buddha Ratana Labuan-Banten.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar